simple way of life

Kisah Ara

Aku bernama Ara. Tomboy dan cuek. Dan dia Rasta. Misterius dan perhatian. Dia teman aku, sejak dari sd.kami teman sepermainan,temen bercanda. Kepercayaan kami yang berbeda. Tapi perbedaan dalam hal pertemanan sudah biasa. kalau kita saling suka itu yang jadi masalah.
Berawal dari sejak SD tiap hari bertemu,bermain,belajar. Sering dia maun kerumah, ya sudah dianggap saudara.sampai SMP pun kita masih sering ketemu tiap hari. Mungkin bocah yang kata orang bilang. Tapi ini cinta pertama, ya cinta monyet sih kalau orang yang lebih dewasa bilang. Tapi kita saling ngehargain masalah perbedaan kepercayaan. Tiap minggu Rasta selalu beribadat di gereja, dan setiap hari aku solat 5 waktu, dia selalu nunggu sampai selesai solat,lalu kita main lagi. ,ngingetin ngaji dan solat tiap adzan berkumandang. Sudah hampir 6 tahun bareng Rasta. Gimana engga ada rasa suka, dia juga berpikir demikian. Suka. Itu yang dia bilang. Sayang itu juga yang dia bilang. Aku suka sejak SMP kelas 1. Rasta mulai lebih perhatian, tau lah ya orang yang lagi pdkt kaya apa. Sampai awal SMPkelas 3 kita udah deket banget. Sedih. Dia bilang suka sayang tapi tak kunjung ada pertanyaan mengenai “status”. Pernah sekali dia nanya, mau engga jd pacar aku? Tak lama kemudian Rasta tertawa dan berkata cuma bercanda. Dia tahu aku suka Rasta. Dan aku tahu Rasta suka aku. Aku udah menunggu dia sampai akhir SMP kelas 3. Dan berita terbaru nya adalah dia akan pergi ke Singapore meneruskan sekolah. Kita sempet marahan gara-gara masalah itu,perbedaan pendapat,ingin dekat tapi kepercayaan memisahkan, ilmu yang mau di cari di negara orang. Rasta pergi tanpa bilang kapan tepatnya. Tapi beberapa jam sebelum pergi, dia pamit.hanya sekedar sms saja. Walaupun tidak pernah bertemu lagi. Memori ini ngga perlu dihapus dari kenangan Ara. Cukup disimpan selamanya. Ini bukan akhir yang indah, seperti cerita dongeng,tapi awal yang bahagia untuk Ara.

Terima kasih seluas jagat raya kepada Regina septiana, Fitri nuraini, Inggi qariba, Refi, dan Meiga.. Yang Membuat saya benar2 tenang dan lega. Tertanggal 17 Januari 2012 ,hari Selasa.  sangat beruntung mempunyai kalian. Terima kasih banyaaakk..

“Dan penyesalan itu datang sekarang, terlalu berpikir dangkal, tidak berpikir secara logis, keras kepala,terlalu penakut,tidak percaya diri, kata hati yang buntu.. Ketika memang itu tidak sesuai harapan, tetapi sekarang kamu berharap hal yang lalu akan terulang kembali. Dan sepertinya itu tidak akan terjadi. Mereka mungkin hanya akan datang sekali dalam hidup mu, hanya untuk mencoretkan beberapa garis di kertas hidupmu. Kamu yang dulu acuh terhadap mereka, sekarang mencari keberadaan yang lain untuk menggantikan posisi nya. Mereka mungkin sudah malas melihat mu, mungkin juga hanya mendengar namamu telinga yang terbuka menjadi tertutup. Ini masalah dari diri kamu,
Kamu yang berkata,kamu yang memberi keputusan,tanpa tahu ini benar atau salah. Memerlukan waktu untuk memperbaiki setiap kesalahan dan membuka hatimu. Tidak seperti yang lain, kamu tidak tahu mengenai apapun,ya bisa dikatakan,bergerak sebatas tembok. Bila salah satu dari mereka adalah jodoh mu, pasti akan kembali berdiri tepat di hadapanmu tanpa mengungkit kesalahan yang telah lalu.” 😊

Cuma ingin bilang, kalau saya pernah suka.. Tapi terlalu banyak pertimbangan.

Dan berpikir siapa temen cowo yang ga atlet yang jadi temen deket atau seseorang. Dan bingung siapa. Sedih kan 😣

Kecengan

Dan hal paling males yang saya lakukan sekarang2 adalah “ngeceng” , yang engga pernah berhenti berkhayal, dan yang engga pernah ada hasil apapun..,yang engga pernah ada yang ngeceng balik. END

Cinta Monyet monyetan

Obrolan teh wiwit dengan icha di ketika di lapangan futsal desa buanamekar, kami kira2 umur 20-22 sedangkan icha masih berumur 7 tahun.:
Teh wiwit: eta kang deni.
Icha: kumaha nya lamun kang deni uih, abdi sedih moal nya??? (dengan wajah tersipu malu.)
Semua: (bengong.. Ngakak).
Dan pandangan icha tidak lepas dari kang deni selama Pertandingan futsal.
Hahahahha cinta monyet lah suka sama anak kuliah yang lagi KKNM di buanamekar.